Belum Mampu Berjalan, Sudah Ingin Berlari ( Angga Setiawan Rahardi, S.H., M.H )
BELUM MAMPU BERJALAN, SUDAH INGIN BERLARI
Oleh : Angga Setiawan Rahardi, S.H., M.H
( Kasubbag Umum dan Keuangan PA Sengeti )
Hai, Salam kenal Warga Sipil, Gue Angga, ASN biasa dengan jabatan eselon terendah. Saat ini gue semakin resah dengan kepemimpinan yang ada di lingkungan ASN. Gue nggak berharap kalian setuju dengan tulisan ini, tapi gue berharap dari tulisan gue ini, bisa membuat lu semua yang baca ikutan “terjerumus” dalam keresahan yang selama ini gue rasakan.
Kalau kalian berharap mendapatkan bacaan yang menggunakan bahasa akademis dengan sarat ilmiah yang terkesan “sok” pintar berdasarkan kaedah penulisan yang baik dan benar, gue pastiin kalian bakal kecewa.
Ngomongin soal kepemimpinan, udah terlalu banyak teori yang bisa kita pelajari dari berbagai sumber. Kalian bisa cari dari buku, artikel, makalah, bahkan kalau kalian rajin buka youtube, kalian bakal nemuin ribuan, ratusan ribu, bahkan mungkin jutaan video-video motivasi yang bertemakan kepemimpinan.
Gue bukan orang yang suka nonton video motivasi, karena menurut gue ketika seorang motivator memberikan motivasi dan mendapatkan bayaran maka dia bukanlah seorang motivator, melainkan hanya seorang pesulap yang berusaha menghipnotis orang- orang dengan kata-kata manisnya seolah-olah semua orang bisa melakukan apa yang dia katakan.
Guys, kadang kita terlalu fokus untuk menjadi seorang pemimpin yang baik, yang dicintai bawahan, yang mampu menjalankan program, mampu membentuk orang lain menjadi seorang pemimpin di masa depan, tapi kita sendiri lupa kalau ilmu dasar dari kepemimpinan itu mengenal dan memimpin diri sendiri. Gue analogikan begini, ketika kita belajar untuk memimpin orang lain sementara kita nggak mengenal dan belum mampu memimpin diri sendiri, maka kita seperti layaknya seorang “bayi” yang belum mampu berjalan, namun memaksakan diri untuk belajar berlari.
“KNOWING YOUR SELF IS THE BEGINING OF WISDOM”
Seorang Kaisar Besar dari Negeri Romawi Kuno yang termasuk ke dalam daftar “Five Good Emperors of The Roman Empire” bernama Marcus Aurellius pernah berkata “mengenal diri sendiri adalah awal dari kebijaksanaan”. Manusia merupakan mikrokosmos alam semesta atau unsur terkecil dari alam semesta yang artinya semua unsur yang terkandung di alam semesta, terkandung pula di dalam tubuh manusia seperti besi, tanah, air, udara, listrik, dan lain-lain. Setiap manusia memiliki keterikatan, sehingga ketika kita telah mampu mengenal diri kita sendiri, mampu menemukan arti hidup kita sebagai manusia, maka kita akan memiliki tujuan dan akan lebih mengerti tentang orang lain.
Gue bukan seorang pemimpin hebat yang patut dicontoh dan dijadikan panutan, tapi gue hanya orang yang merasa resah dengan sosok-sosok pemimpin di lingkungan kerja gue khususnya dan di dunia ASN umumnya.
Pimpinan dan pemimpin itu dua hal yang sangat jauh berbeda namun sering sekali kita samakan. Pimpinan adalah orang yang dipilih dan ditetapkan berdasarkan suatu prosedur, entah itu dipilih berdasarkan “kedekatan” atau prestasi, pangkat dan senioritas. Tapi pemimpin adalah orang yang mengenal bagaimana karakter dirinya sendiri yang mampu menetapkan program, menjalankan program, serta membentuk orang lain menjadi seorang pemimpin.
Berapa banyak pimpinan yang terjebak ke dalam “Feodalisme Jabatan”, yang hanya bekerja dan memimpin berdasarkan program dan arahan yang ditetapkan oleh pimpinan yang ada diatasnya lagi, yang hanya bisa “manut” dan “njih” terhadap sebuah perintah dan kebijakan yang terkadang menyulitkan bawahannya dan bertentangan dengan hati nuraninya sendiri. Hal ini terjadi di negara kita tercinta karena Sistem Pendidikan kita yang feodal, yang hanya mengajarkan tentang “what and how”, tapi tidak mengajarkan tentang “why”. Ini yang menjadikan mindset kita bahwa nilai suatu pelajaran adalah target yang harus dicapai seorang siswa, tapi tidak membantu kita untuk mencapai nilai-nilai terbaik yang ada pada diri kita, dan dari sinilah awal mula pemikiran feodal terbentuk.
Jika diibaratkan sebuah bangunan, mengenal diri sendiri adalah pondasi untuk menjadi seorang pemimpin, adanya kemauan adalah tiangnya, memiliki komitmen adalah dindingnya, serta menerima setiap masukan dan kritikan adalah atapnya. Bangunan yang kokoh adalah bangunan yang memiliki pondasi yang kuat, maka untuk menjadi seorang pemimpin kita harus bisa menguatkan pondasi bangunan kita terlebih dahulu.
Ucapan “Semua manusia itu spesial, Jika orang lain bisa maka kita pun juga bisa”, menurut Gue hanyalah sebuah “lip service” yang diucapkan oleh seorang pesulap berkedok motivator belaka. Manusia itu bukanlah makhluk spesial karena manusia memiliki keterbatasan dan terbatas terhadap segala hal. Tapi manusia adalah makhluk yang unik, yang memiliki kemampuan serta pemikiran yang berbeda-beda. Setiap orang mampu menjadi pemimpin dengan caranya masing-masing.
Ketika kita mempunyai panutan, teladan, orang yang kita anggap hebat dalam memimpin, maka jadikan orang itu sebagai kerangka berpikir kita untuk menjadi seorang pemimpin hebat berdasarkan versi diri kita sendiri, jangan paksakan diri kita untuk bisa menjadi hebat seperti orang tersebut.
Sebagai contoh dalam agama Islam, pemimpin terhebatnya adalah Baginda Rasulullah Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam, Islam menjadikan beliau sebagai panutan tidak hanya dalam bidang kepemimpinan, tapi juga sebagai panutan di segala sendi kehidupan. Lalu apakah kita bisa menjadi seperti beliau? Jelas tidak akan pernah bisa. Tapi, apakah kita bisa menerapkan keteladanan beliau? Bisa. Kita sebagai manusia pasti bisa menerapkan teladan-teladan beliau sesuai dengan kemampuan dan versi terbaik dari diri kita.
Bahkan sahabat-sahabat terdekat Rasulullah Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam, seperti Sayyidina Abu Bakar Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin ‘Affan, sampai Sayyidina Ali bin Abi Thalib pun tidak ada yang mampu menjadi manusia seperti beliau. Apakah mereka bukan pemimpin yang hebat? Jawabannya jelas mereka adalah pemimpin- pemimpin yang hebat di dunia Islam dengan versi terbaik dari diri mereka masing-masing.
“PLAYING YOUR ROLE AND BEING YOUR SELF”
Jadi sebelum kita mencoba untuk berlari, maka belajarlah untuk berjalan terlebih dahulu. Ketika kaki kita sudah kokoh dalam berjalan, maka mulailah untuk belajar berlari. Sebelum kita menjadi seorang pemimpin, maka pahami, kenali, dan jalankanlah peran kita saat ini, entah itu sebagai tenaga honorer, staf, pelaksana dengan menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri. Ketika kita sudah paham dan menjalankan peran kita saat ini dengan baik, maka kita akan siap untuk menjalankan peran kita di level berikutnya.
Identitas diri kita itu terbagi menjadi tiga perspektif, yaitu diri kita menurut pikiran kita, diri kita menurut pendapat orang lain, dan diri kita yang sebenarnya. Dan harus kalian tahu, bahwa apa yang dikatakan orang lain hanyalah sebuah pendapat bukan fakta, dan apa yang kita pikirkan hanyalah persepsi bukan kebenaran.
Jadi untuk mengenali siapa diri kita, maka kita harus menyelami diri kita sendiri, ketika kita mau menyelami diri kita sendiri dan mendapatkan kesimpulan bahwa “i am as i am not”, saat itulah kita mulai mengenal siapa kita dan menyadari bahwa kita saat ini sedang berlari sambil merangkak karena sesungguhnya kita baru belajar untuk berjalan.
Dengan tulisan ini, bukan berarti gue adalah orang yang sudah mengenali diri gue sendiri dan siap serta mampu menjadi seorang pemimpin hebat. Tapi gue adalah orang yang baru sadar dan baru mau belajar untuk mengenal diri sendiri.
Gue nggak berharap kalian akan setuju dengan apa yang gue tulis, tapi gue berharap kalian mulai menemukan kerangka berpikir untuk menjadi seorang pemimpin-pemimpin hebat di masa depan di semua lini kehidupan pada umumnya dan menjadi seorang pemimpin hebat di lingkungan ASN pada khususnya.
Kesimpulan yang bisa gue berikan adalah teori-teori kepemimpinan tidak selalu bisa dan cocok kita praktekkan, manusia itu tidak spesial dan tidak bisa melakukan segala hal melainkan manusia itu unik dengan kemampuan dan pemikiran yang berbeda-beda, manusia itu unsur terkecil dari alam dan memiliki keterikatan antar manusia, maka jalankan peran kita
saat ini berdasarkan versi terbaik kita dan berjalan selaras dengan alam sehingga suatu saat kita akan siap menjalankan peran kita di level yang lebih tinggi.
So, saran gue sebelum kalian mencoba untuk memimpin orang lain, kita belajar untuk mengenal dan memimpin diri kita terlebih dahulu. Dan jadikan tulisan gue ini sebagai kerangka berpikir, bukan sebagai acuan kebenaran.